<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>welcome to my life</title>
	<link>http://dyna.blogsome.com</link>
	<description>I just want to be the best, give the best, and do the best</description>
	<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 09:28:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Alisa Delisa</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/07/19/alisa-delisa/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/07/19/alisa-delisa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 09:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/07/19/alisa-delisa/</guid>
		<description><![CDATA[	Ya Allah&#8230;lihatlah ! Gadis kecil itu sungguh ingin sujud kepadaMu&#8230;sungguh hanya ingin sujud kepadaMu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Tetapi sekarang ia tak bisa melakukannya !
Ya Allah, bukankah banyak sekali orang-orang jahat, orang-orang munafik, orang-orang fasik yang bisa semaunya melakukan hal-hal buruk di dunia ini ? Engkau sungguh tak menghalanginya ! Tetapi Delisa ! Ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ya Allah&#8230;lihatlah ! Gadis kecil itu sungguh ingin sujud kepadaMu&#8230;sungguh hanya ingin sujud kepadaMu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Tetapi sekarang ia tak bisa melakukannya !<br />
Ya Allah, bukankah banyak sekali orang-orang jahat, orang-orang munafik, orang-orang fasik yang bisa semaunya melakukan hal-hal buruk di dunia ini ? Engkau sungguh tak menghalanginya ! Tetapi Delisa ! Ya Allah, Delisa justru hendak sujud kepadaMu&#8230;hendak sujud ! Kenapa Kau membuatnya pingsan sebelum ia sempat melakukannya ? Kenapa ? Ya Allah, kenapa ? Aku bertanya&#8230;aku butuh penjelasan&#8230;<br />
Seribu malaikat bertasbih. Seribu malaikat mengungkung langit. Turun menatap semua itu. Dan mereka tidak melakukan apa-apa !<br />
Tubuh Delisa mulai tenggelam. Tubuh Delisa mulai menjemput kematiannya. Tubuh Delisa – Ya Allah, lihatlah ! Aku mohon&#8230;itu permohonanku yang pertama.<br />
Ya Allah, padahal banyak sekali manusia yang katanya makhluk terbaik ciptaanMu, bahkan memiliki berjuta bilah papan yang bahkan cukup untuknya hidup sejuta tahun. Bilah papan yang tak pernah berbagi. Bilah papan yang dimakan sebdiri&#8230;demi nafsu dunia dan cinta materi. Tetapi lihatlah, mereka hanya punya sebilah papan. Hanya punya sebilah nyawa yang akan diselematkan.<br />
Seribu malaikat mengungkung langit memuji namaMu ya Allah. Seribu malaikat mengungkung langit langit menyebut asmaMu ya Allah. Tak pernah seperti itu semenjak Ibrahim al Pasai memilih turun dari tahtanya. Meninggalkan seluruh kenikmatan dunia demi berbagi di kerajaan Samudera Pasai. Seribu malaikat mengucap salam.<br />
Ya Allah, aku pernah sekali melihatnya ! Jadikan ia sebagai kerudung yang akan dipakai “perhiasan terbaikku”. Pinjamkan ia di atas kepala kekasih dunia akhiratku !<br />
YaAllah, bahkan mereka sekecil itu tahu apa yang harus mereka lakukan ! Bahkan mereka sekecil itu tahu arti ikut merasakan&#8230;ikut berbagi. Ya Allah, sungguh ada banyak sekali orang-orang yang bahkan tidak tahu buat apa mereka hidup di dunia ini. Tidak tahu Kau akan bertanya banyak kelak di penghujung pengadilan. Tidak tahu kau akan meminta seluruh pengtanggungjawaban kelak. Tidak tahu semuanya pasti mendapatkan balas walau setitik djarah.<br />
Y Allah, lihatlah ! Delisa baru enam tahun ! Delisa bahkan belum mengerti makna mati dan kematian, YA Allah, lihatlah ! Delisa baru enam tahun ! Delisa bahkan belum tahu makna derita dan penderitaan&#8230;<br />
Banyak sekali ciptaanMu di dunia yang sungguh berewah-mewah dengan hidup. Lupa dengan makna mati dan kematian, padahal mereka mengerti. Menciptakan berjuta derita dan penderitaan bagi orang lain, padahal mereka tahu memahami. Tetapi mengapa Delisa yang harus menyaksikan semua itu ? Mengapa harus melalui mata hijaunya yang bening kami harus mengerti ayat-ayatMu ? Mengapa ya Allah ? Aku sungguh tak mengerti&#8230;<br />
Lihatlah ya Allah ! Gadis kecil itu sungguh sendirian. Bukankan kuasaMu menjejak walau sekedar basah atau keringnya setangkai jerami. Bukankah kuasaMu menggapai walau jatuh tidaknya setetes air di tengah hutan belantara luas. Aku mohon – bantulah dengan tak terkira kasihMu&#8230;bantulah dengan tak terhitung sayangMu.<br />
Ya Allah, sungguh mulia Engkau. Kau-lah yang menanamkan semua kesadaran itu. Kami lahir tak bisa melihat, Kau buat melihat. Kami lahir tuli, Kau buat mendengar. Kami lahir tak bergerak, Kau buat melangkah. Kami lahir tak mengerti, Kau tanamkan pengertian.<br />
Ya Allah, bahkan banyak sekali orang-orang yang lalai, orang-orang yang fasik, orang-orang munafik, orang-orang jahat yang tak pernah lupa atas rencana-rencana jahat mereka&#8230;tidak pernah terlupakan. Bagaimana Delisa yang hendak shalat padaMu ? Delisa yang dalam keadaan sungguh mengenaskan, ingin shalat padaMu dengan sempurna, dan Kau buat ia lupa ? Bagaimana kalau esok lusa ia tidak sempat lagi menyetor bacaan itu ?<br />
Ketika Delisa kelu menyadari fakta itu, ketika Delisa terjebak oleh semua kebingungan, seribu malaikat sedang menyiapkan istana indah untuknya di surga. Terukir namanya dengan huruf-huruf besar di pigura depan : ALISA DELISA.<br />
Ya Allah, bahkan perbuatan terbaikku tak pernah membuat seujung kuku wajahku bercahaya&#8230;tak pernah. Tak pernah  sedikit pun ! Apakah hati ini begitu kotornya ? Apakah tak ada sisa kebaikan yang ada di hati ini agar bisa menyinari jalan kebaikan bagi orang lain ? Apakah semuanya tinggal sebongkah daging yang hitam kelam ? Tanpa perasaan lagi ?<br />
Ya Allah, bahkan wajahku tak pernah sedikit pun menginspirasikan orang lain untuk berbuat baik. Tak pernah sedikit pun mengilhami orang lain untuk berubah. Lihatlah ! Sungguh aku cemburu&#8230;bagaimana aku harus menjelaskan semua kecemburuan ini ?<br />
Istana itu semakin indah buat Delisa&#8230;ada sejuta burung bul-bul di halamannya sekarang.<br />
Dan memang begitulah, semua manusia yang masih memiliki hati di dunia ini akan selalu merasa dekat dengan siapa saja yang kebetulan sedang tertimpa musibah.<br />
Semua kesedihan ini bahkan cukup untuk membuat panglima perang paling perkasa sekali pun tertunduk menangis. Semua kesedihan ini. Semua perasaan ini.<br />
Sayangnya ketahuilah wahai penduduk bumi, kesedihan tidak mengenal derajat kehidupan yang diciptakan manusia. Kesedihan hanya mengenal derajat kehidupan yang Engkau tentukan. Kesedihan tidak pernah berkorelasi dengan kehidupan manusia yang amat keterlaluan cinta dunianya. Kesedihan hanya mengenal ukuran yang Engkau sampaikan lewat ayat-ayatMu. Kesdihan seseorang sungguh seharusnya kegembiraan baginya. Kegembiraan seseorang boleh jadi hakikatnya kesedihan terbesar baginya. Hanya untuk orang-orang yang berpikir.<br />
Ya Allah, Delisa harus terus hidup. Ia belum pernah sujud yang sempurna. Aku mohon demi hidup dan kehidupan ini !<br />
Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Besar Engkau ya Allah, yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak punya dan mempunyai selain Engkau.<br />
Tetapi mengapa Engkau harus menciptakan perasaan ? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan ‘perasaan’ itu pada makhluk ciptaanMu ? Perasaan kehilangan&#8230;perasaan memiliki&#8230;perasaan mencintai&#8230;<br />
Kami tak melihat, Kau berikan mata. Kami tak mendengar, Kau berikan telinga. Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna ! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu ? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami ? Mengapa ?<br />
Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu.<br />
Katakanlah wahai semua pecinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kerinduan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang menciptakan dunia dengan kasih sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.<br />
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatnya.<br />
Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia lyu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yangbtidak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku.<br />
Malam itu, penduduk langit sama sekali tidak tertidur.<br />
Tetapi ya Allah, Delisa baru enam tahun ! Kanak-kanak yang kesehariannya seharusnya lebih banyak diisi dengan bermain. Bukan masa-masa untuk bertanya. Pertanyaan yang entah kapan ia mampu menjawabnya. Jika pun ada jawaban, entah kapan ia akan mampu memahaminya. Jika pun ia bisa menerimanya, entah kapan ia bisa menerimanya.<br />
Engkau langsung menghukumnya. Delisa langsung ‘direndam’ dalam panasnya bara pengampunan. Entahlah ! Baik atau tidak bagi Delisa.<br />
Sedangkan banyak sekali orang-orang jahat yang Kau tunda penghukumannya. Orang-orang jahat yang Kau biarkan tertawa-tawa. Bahkan Kau ‘berikan’ mereka jalan untuk dengan mudah melanjutkan bejat perangai mereka. Tengik perilaku mereka. Kau berikan jalan agar apa yang mereka lakukan malah terlihat baik di mata dunia.<br />
Ukuran kehidupan yang kami ciptakan memang keterlaluan sekali, ya Allah. Kami malu jika berjalan ke tempat-tempat umum tanpa alas kaki. Padahal apa salahnya ? Kami justru tidak malu jika berdusta, kami tidak malu setelah melakukan maksiat.<br />
Ukuran pemahaman yang kami buat memang keterlaluan sekali, ya Allah. Kami takut tidak memiliki harta, kami cemas bila esok tak ada harapan menambah pundi-pundi, sementara teman-teman kami sudah sedemikian menterengnya. Padahal apa salahnya ? Kami justru tidak malu membenarkan hal-hal keliru. Berkata ‘Ah ! Bukankah sudah demikian peraturannya ?’. Lump-sum. Setiap perjalanan diberikan ongkos sekian. Habis tidak habis ya segitu ! Kami lupa, kalau ‘peraturan manusia’ bilang demikian, apa lantas peraturanMu bilang sama ? Kami lupa, ukuran yang menelikungMu. Bukan permufakatan yang kami lakukan untuk membuat peraturan-peraturan tersebut.<br />
Bagaimanalah jadinya kalau Delisa tidak terselamatkan ? Ya Allah, apakah hukuman untuk pembangkangannya seberat itu ? Bukankah banyak makhluk ciptaanMu yang sepanjang hidupnya tak pernah menurut ayat-ayatMu ? Tidak pernah melakukan kebaikan-kebaikan, tetapi Kau biarkan mereka hidup dalam semua kenikmatan ?<br />
Bukankah banyak sekali hambaMu yang culas, durhakan, dan zalim ? Sepanjang hidupnya begitu. Tak pernah Kau hukum. Dan ketika di penghujung hidupnya mereka sedetik saja insyaf dan bertaubat, seketika Kau maafkan dosa-dosa mereka.<br />
Ya Allah, bukankan Delisa sebaliknya ? Di penghujung semua kebaikannya, ia membangkang kepadaMu. Hanya sekali ini saja. Dan Kau langsung menghukumnya. Bagaimanalah kalau ia tidak terselamatkan lagi ? Bagaimana mungkin berguguran semua kebaikan itu ? Bukankah pembangkangan ini bisa diterima ?<br />
Ya Allah, kami bodoh ! Kami sering tidak mengerti apa maksud takdirMu. Lantas apakah itu sebuah pembangkangan jika kami berkata TIDAK ? Apakah salah jika Delisa juga berkata TIDAK ? Kau-lah yang menciptakan bongkah perasaan itu. Dan kami lemah untuk memahami berbagai perasaan tersebut. Teramat lemah. Bantulah kami !<br />
Malaikat Atid – sang pencatat keburukan – membuka buku raksasanya. Mengeluarkan penghapus raksasanya. Butuh dua belas hari untuk menghapus dosa itu. Dua belas hari langit, setara dengan dua belas ribu tahun bumi.<br />
Maka berpikirlah, wahai para pembuat maksiat ! Berpikirlah, wahai para pembuat zalim yang ringan tangan mengambil hak-hak orang lain !<br />
Yang dengan riang berkata : ‘Ah, sepanjang kami berbuat baik, bekerja baik, sungguh-sungguh, maka uang sogok masuk kerja ini akan terampuni !’. Atau dengan senang berkata : ‘Ah, sepanjang kami kembali ke istri masing-masing, berbuat baik, sungguh-sungguh, maka semua zina tangan, mata, dan hati ini akan terampuni.’ Yang mudah sekali ‘mencuri’ waktu kerja. ‘Mencuri’ hak orang lain. Atau dan atau lainnya.<br />
Bagaimanalah kalian akan berharap ampunan, sedangkan dosa sebatang coklat Delisa membutuhkan dua belas ribu tahun untuk menghapusnya. Sungguh semua urusan ini seharusnya membuat kita malu. Malu dan berpikir ! Malu ! Berpikir !<br />
Ah, bahkan nabi-nabi dan orang-orang terbaik pilihanMu pun sering bertanya. Menuntut penjelasan. Meminta pemahaman. Masalahnya mereka orang-orang yang istiqamah. Orang-orang yang mampu membersihkan hati dari bercak-bercak kemunafikan.<br />
Sedangkan hamba ya Allah ? Hamba jauh dari memadai untuk berhak bertanya padaMu. Tetapi terimalah berbagai pertanyaan, pengaduan, dan keluh-kesah ini. Ampunkan jika terlalu dan tak pantas. Dan semoga dengan itu hamba bisa berkesempatan mendapatkan remah-remah penjelasan. Dan semoga dengan itu hamba bisa ikut merasakan sisa-sisa pemahaman.<br />
Sungguh hamba rindu dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sungguh hama rindu dengan maqam yang lebih tinggi. Meski hati hamba masih mendua, masih takut dengan ‘harga’ dunia yang harus dibayar atas tingkatan tersebut.<br />
Ya Allah, apakah semua hambaMu pernah mendapatkan kesempatan seperti itu ? Apakah semua hambaMu berhak atas sebuah penjelasan ? Penjelasan yang Kau kirimkan langsung dari arasyMu. Bukan penjelasan lewat buku-buku. Bukan penjelasan lewat orang-orang lainnya. Tetapi penjelasan yang tiba di hati secara langsung. Tercerna begitu saja, kemudian mengalir bersama merahnya darah kami.<br />
Penjelasan tentang semua hidup dan kehidupan ini&#8230;<br />
Penjelasan atas semua pertanyaan-pertanyaan kami&#8230;<br />
Gadis kecil itu baru enam tahun. Tak mengerti hidup dan kehidupan. Tak paham mati dan kematian. Umurku saat ini 23 tahun. Bergelimang bangga dengan ilmu yang kudapatkan dari bangku universitas negeri ternama. Bergelimang bangga dengan berbagai tulisan yang mungkin dibaca jutaan orang. Bergelimang bangga atas semua pemahaman dangkal. Bergelimang bangga atas semua itu.<br />
Tetapi setelah sekian lama, tak pernah kudapatkan hakikat penjelasan itu ya Allah. Tak pernah kudapatkan hakikat jawaban itu. Sementara Delisa, gadis kecil enam tahun itu Kau berikan kesempatan yang luar biasa ! Apakah hati ini terlalu kotor ya Allah ? Apakah hati ini amat munafik ? Apakah hati ini terlalu dangkal untuk menangkap penjelasanMu ? Semua penjelasanMu yang tergurat di bumi. Terlukis di langit. Apakah hati ini terlalu lemah untuk mengerti ? Untuk memahami&#8230;Bahkan setelah sekian lama, hati ini masih kuyu bertanya : apa arti hidup dan kehidupan ? Apa makna mati dan kematian ?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/07/19/alisa-delisa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Siapa ?</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/04/13/menjadi-siapa/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/04/13/menjadi-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Apr 2006 08:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/04/13/menjadi-siapa/</guid>
		<description><![CDATA[	Menjadi karang-lah, meski tidak mudah.
Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah.
Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan.
Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya.
Sebab ia akan kokohkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Menjadi karang-lah, meski tidak mudah.<br />
Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.<br />
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah.<br />
Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan.<br />
Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya.<br />
Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.<br />
Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.</p>
	<p>Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah.<br />
Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya.<br />
Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar.<br />
Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir.<br />
Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang.<br />
Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan.<br />
Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan.<br />
Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya.<br />
Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.</p>
	<p>Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah.<br />
Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera.<br />
Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu.<br />
Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.</p>
	<p>Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah.<br />
Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit.<br />
Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya.<br />
Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru.<br />
Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh.<br />
Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya.<br />
Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram angsa.<br />
Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.</p>
	<p>Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna.<br />
Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan.<br />
Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat.<br />
Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya.<br />
Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah.<br />
Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar.<br />
Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi.<br />
Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun.<br />
Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni.<br />
Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.</p>
	<p>Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah.<br />
Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam.<br />
Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia.<br />
Sebab ia begitu berharga.<br />
Sebab ia begitu indah dipandang mata.<br />
Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.</p>
	<p>Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula.<br />
Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini.<br />
Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan.<br />
Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.</p>
	<p>Menjadi apapun dirimu&#8230;, bersyukurlah selalu.<br />
Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu.<br />
Sebab kau yakini kekuatanmu.<br />
Sebab kau sadari kelemahanmu.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/04/13/menjadi-siapa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Rindu</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-rindu/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 09:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-rindu/</guid>
		<description><![CDATA[	Ruang-ruang kian redup dengan perlahan
Gelap merayap dan serangga-serangga berpesta
	Aku berlari mencari terang
Namun kutukan ini menghempaskanku dalam lorong sunyi
Masihkah rinduku bersarang pada rumah putih itu
	Ini adalah mimpi
Untuk yang beranjak lapuk dimakan waktu

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ruang-ruang kian redup dengan perlahan<br />
Gelap merayap dan serangga-serangga berpesta</p>
	<p>Aku berlari mencari terang<br />
Namun kutukan ini menghempaskanku dalam lorong sunyi<br />
Masihkah rinduku bersarang pada rumah putih itu</p>
	<p>Ini adalah mimpi<br />
Untuk yang beranjak lapuk dimakan waktu
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-rindu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Tumbuh</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-tumbuh/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-tumbuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 09:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-tumbuh/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku rindu pagi yang kosong, saat segala di sekelilingku tak bernama dan bermakna. Lalu, nama dan makna itu bermunculan seperti matahari yang mulai menggeliat di balik mega putih. Seperti kelopak mawar yang mengenal rekah oleh hangat yang membelainya.
Saat seperti itu biasanya adalah saat aku kembali memaksa benakku menunjukkan kemampuan jelajahnya ke mana-mana. Kadang-kadang melintas gambar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku rindu pagi yang kosong, saat segala di sekelilingku tak bernama dan bermakna. Lalu, nama dan makna itu bermunculan seperti matahari yang mulai menggeliat di balik mega putih. Seperti kelopak mawar yang mengenal rekah oleh hangat yang membelainya.<br />
Saat seperti itu biasanya adalah saat aku kembali memaksa benakku menunjukkan kemampuan jelajahnya ke mana-mana. Kadang-kadang melintas gambar, aroma, dan rasa jagung bakar pedas manis yang sudah lama tidak kunikmati, atau pikiran tentang bagaimana cara menghitung volume satu tetes hujan yang  ribut beradu di genteng pada malam yang lewat.<br />
Rumah tumbuhku adalah cinta yang terus memagut senyum-senyum yang menyapa di tengah lantunan ayat-ayat suci di pagi buta, hingga riuh pecahan ombak yang tak berkesudahan.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/rumah-tumbuh/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bulan Dan Bintang</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/bulan-dan-bintang/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/bulan-dan-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 09:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/bulan-dan-bintang/</guid>
		<description><![CDATA[	Kami selallu bertegur sapa dalam kesenyapan malam. Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraan kami dengan hembusannya. Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.
Aku tahu, diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan siinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.
Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilagkan kedirianku, mengusikku saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kami selallu bertegur sapa dalam kesenyapan malam. Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraan kami dengan hembusannya. Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.<br />
Aku tahu, diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan siinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.<br />
Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilagkan kedirianku, mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam.<br />
Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang. Hanya kembali pada bumi.<br />
Jika terjebak pada kelam awan dan dingin hujan, ingatlah masih ada harapan kan indah pelangi dan hangat mentari.<br />
Malam semakin lelah dan suntuk. Ia menelanku perlahan-lahan bersama diriku yang tenggelam dalam pendar senyumnya yang menatah cela pada pekat malam dengan tarian cahaya. Apakah aku sampai pada saat harus mengakhiri kegamangan ini ?<br />
Sennja melepuh dalam hening, seperti juga aku yang membisu dalam percikan bara dirinya yang menghujaniku. Ada kedalaman bola matanya, yang terus menyeretku masuk. Dan selalu setiap ia ada, arus itu akan menari-nari menggodaku untuk bermain-main dan tiba-tiba aku sudah tenggelam dalam pusaran yang diciptakannya.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/04/06/bulan-dan-bintang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Ini</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2006/02/13/hari-ini/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2006/02/13/hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2006 08:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2006/02/13/hari-ini/</guid>
		<description><![CDATA[	Hari Ini
	Aku tahu ketika sebagian hatiku dibuat untukmu
Atau hanya sekedar sebagian ruang di benakku tempat engkau berziarah
Aku pun tahu ketika dibangun ruang indah untukmu
Jauh sebelum berita kedatanganmu, untukmu datang atau pergi
	Begitulah hari ini ketika lalu lintas otakku macet total
Karena sebuah bongkahan batu besar menghalangi pengekplorasianku
Aku tak lagi bisa menemukanmu…
Meskipun kugunakan alat pelacak dengan presisi tingkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hari Ini</p>
	<p>Aku tahu ketika sebagian hatiku dibuat untukmu<br />
Atau hanya sekedar sebagian ruang di benakku tempat engkau berziarah<br />
Aku pun tahu ketika dibangun ruang indah untukmu<br />
Jauh sebelum berita kedatanganmu, untukmu datang atau pergi</p>
	<p>Begitulah hari ini ketika lalu lintas otakku macet total<br />
Karena sebuah bongkahan batu besar menghalangi pengekplorasianku<br />
Aku tak lagi bisa menemukanmu…<br />
Meskipun kugunakan alat pelacak dengan presisi tingkat tinggi</p>
	<p>Begitulah aku ada yang menjadi sebuah rutinitasku<br />
Atau sekedar pengisi ruang-ruang tidur tak termanfaatkan<br />
Begitulah aku berubah dari pecundang menjadi pahlawan<br />
Yang terkadang mengisi ruang-ruang kosong </p>
	<p>Berjuta-juta ruang dalam benakku dan ruangmu<br />
Dan akupun belum memasuki keseluruhannya<br />
Dan pun katanya samudera melingkupinya,<br />
Baik dalam atau tepinya tak terhingga</p>
	<p>Kuharap engkau datang<br />
Membawa lukisan dan piala yang berisi kesejukan salsabila<br />
Tak usah engkau bahasakan atau bunyikan<br />
Karena bak DNA ia mempunyai pasangan-pasangan abadi di hatiku</p>
	<p>Aku yang mempunyai kunci di ruangmu<br />
Namun engkau boleh datang kapan saja<br />
Pagi, petang atau malam, dalam sadar atau tidurku<br />
Engkau yang terbebas dari segala ikatan…</p>
	<p>Aku dengan sayap renta namun bisa teregenerasi<br />
Aku yang terikat oleh masrik dan magrib<br />
Kadang aku terganggu untuk memasuki Iran<br />
Kota megah dengan dinding dan tiang-tiang tinggi</p>
	<p>Begitupun siang hari ini atau siang kemarin<br />
Telah kukumpulkan bongkahan-bongkahan hikmah<br />
Karena semuanya tetap mengalir<br />
Aku tak ingin ia beku…</p>
	<p>Aku yang rindu padamu</p>
	<p>Thanks’s to K’Al
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2006/02/13/hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Simply I Love You</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/simply-i-love-you/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/simply-i-love-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 08:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/simply-i-love-you/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku mencintaimu dengan sederhana
Seperti sungai pada hujan
Seperti bunga pada kupu-kupu
Seperti laut pada daratan
	Aku mencintaimu dengan sederhana
Seperti Srikandi pada Arjuna
Seperti Shinta pada Rama
	Aku mencintaimu dengan sederhana
Bukan dengan bujuk rayu
Bukan dengan penyaluran hasrat
Bukan dengan pelampiasan nafsu
Walau aku tak menampik semua itu
	Aku mencintaimu dengan sederhana
Dengan sentuhan
Dengan belaian
Dengan kecupan
Bukan dengan bercumbuan
Bukan dengan ciuman penuh gairah
Namun dengan kasih
Tulus dan suci
Indah
Lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Seperti sungai pada hujan<br />
Seperti bunga pada kupu-kupu<br />
Seperti laut pada daratan</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Seperti Srikandi pada Arjuna<br />
Seperti Shinta pada Rama</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Bukan dengan bujuk rayu<br />
Bukan dengan penyaluran hasrat<br />
Bukan dengan pelampiasan nafsu<br />
Walau aku tak menampik semua itu</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Dengan sentuhan<br />
Dengan belaian<br />
Dengan kecupan<br />
Bukan dengan bercumbuan<br />
Bukan dengan ciuman penuh gairah<br />
Namun dengan kasih<br />
Tulus dan suci<br />
Indah<br />
Lebih indah dari yang pernah kau bayangkan</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Tidak meletup laksana api<br />
Namun mengalir seperti air<br />
Tenang<br />
Dalam<br />
Menghanyutkan</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Walau harus kuterjang badai<br />
Kuhadang gelombang<br />
Hingga tiba di tepian tak bertuan</p>
	<p>Aku mencintaimu dengan sederhana<br />
Entah kau sadari atau tidak
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/simply-i-love-you/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Allahu Rabbi</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/allahu-rabbi/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/allahu-rabbi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 08:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/allahu-rabbi/</guid>
		<description><![CDATA[	Allahu Rabbi
Aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
	Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
	Allahu Rabbi
Izinkanlah aku
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
	Allahu Rabbi
Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Allahu Rabbi<br />
Aku minta izin<br />
Bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang<br />
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau</p>
	<p>Allahu Rabbi<br />
Aku punya pinta<br />
Bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas<br />
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh</p>
	<p>Allahu Rabbi<br />
Izinkanlah aku<br />
Bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu<br />
dan membuatku semakin mengagumi-Mu</p>
	<p>Allahu Rabbi<br />
Bila suatu saat aku jatuh hati<br />
Pertemukanlah kami<br />
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu</p>
	<p>Allahu Rabbi<br />
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati<br />
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku<br />
Anugerahkanlah aku cinta-Mu<br />
Cinta yang tak pernah pupus&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/allahu-rabbi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menatap Mawar Pada Laut (engkaukah itu ?)</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/menatap-mawar-pada-laut-engkaukah-itu/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/menatap-mawar-pada-laut-engkaukah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 08:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/menatap-mawar-pada-laut-engkaukah-itu/</guid>
		<description><![CDATA[	&#8230;sebuah kontemplasi ramadhan diri&#8230;
	Pagi dingin ini mawar terdiam hilang suara
Mengapa pucat merah mawar ?
sebaris semut, kumbang dan kupu mengepak sayap tak percaya
mawar rekah senyum pada nelangsa
aku mencari lukisan dalam gairah air dari syurga
tapi mengapa kau kenakan pakaian hitam-hitam itu
sedangkan matahari telah menggantikan bulan?
aku mencari air, mawar tatap ke depan bentangkan jiwa
Maha suci pemberi air itu
Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&#8230;sebuah kontemplasi ramadhan diri&#8230;</p>
	<p>Pagi dingin ini mawar terdiam hilang suara<br />
Mengapa pucat merah mawar ?<br />
sebaris semut, kumbang dan kupu mengepak sayap tak percaya<br />
mawar rekah senyum pada nelangsa<br />
aku mencari lukisan dalam gairah air dari syurga<br />
tapi mengapa kau kenakan pakaian hitam-hitam itu<br />
sedangkan matahari telah menggantikan bulan?<br />
aku mencari air, mawar tatap ke depan bentangkan jiwa<br />
Maha suci pemberi air itu<br />
Maha besar penciptanya pada setiap kehausanku</p>
	<p>Pagi dingin ini mawar menitikkan getihnya dalam nestapa<br />
gugur daunnya helai demi helai bersama istighfar<br />
akan luka-luka ketika selaksa jarum menyobek kelopak merah darah<br />
layu batang mawar pada lelahnya duri yang menancap setajam kaca<br />
Basah zikirnya untuk terus menatap kemana pinta jiwa<br />
Maha kasih Dia yang tahu aku di mana<br />
Maha cinta Dia yang menatapku di kejauhan di mana</p>
	<p>Dalam diamnya mawar mengumpulkan seluruh kelopak yang berceceran di tanah<br />
Angin, tolong terbangkan aku sehingga dapat berenang<br />
mengapung dan bercengkarama dengan ikan-ikan yang bebas di mana-mana<br />
di sebuah taman pinta para nelayan<br />
Hujan basahi aku sehingga alirmu bisa membawaku<br />
bermuara di sebuah taman surga para ikan-ikan<br />
Matahari bakar aku agar uapku jatuh kembali ke taman<br />
menyiarkan wewangian pada karang bertebaran<br />
Oh, ombak ayun aku aku dapat bersandar pada perahu<br />
yang ditambatkan di melautnya sejuta keinginan</p>
	<p>Dalam merahnya air mata di pagi dingin Ramadhan<br />
mawar diam memohon pada tuhan akan lautan<br />
mawar diam basahkan dirinya selalu tak lelah pada Engkau<br />
Ombak lautan tersenyumlah pada mawar angin lautan<br />
sehingga mawar terbawa dalam buaian
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/menatap-mawar-pada-laut-engkaukah-itu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Salute !!!</title>
		<link>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/salute/</link>
		<comments>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/salute/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 08:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dyna</dc:creator>
		
	<category>D y n a</category>
		<guid>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/salute/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku ada di lautan pasir katamu
sementara tatapmu tajam bak elang menerkam
bercakar kuku menggenggam semburan peluru
Aku ada di darah memerah katamu
pada jiwa berbasah zikir
berpanas zikir, berdingin zikir, bersakit zikir
Aku ada di dadamu, di fikirmu, di kecamuk dendammu,
di sedih haru birumu
katamu&#8230;menatap riak tangis
nyawa-nyawa yang semakin terkikis
Kejar ! lempar ! bakar ! cakar ! bak air bah
peluru memburu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku ada di lautan pasir katamu<br />
sementara tatapmu tajam bak elang menerkam<br />
bercakar kuku menggenggam semburan peluru<br />
Aku ada di darah memerah katamu<br />
pada jiwa berbasah zikir<br />
berpanas zikir, berdingin zikir, bersakit zikir<br />
Aku ada di dadamu, di fikirmu, di kecamuk dendammu,<br />
di sedih haru birumu<br />
katamu&#8230;menatap riak tangis<br />
nyawa-nyawa yang semakin terkikis<br />
Kejar ! lempar ! bakar ! cakar ! bak air bah<br />
peluru memburu menyusup menembus mata-mata serigala buta<br />
dan buruk rupa yang terus mendengus bau darah sejuta<br />
manusia yang tak berdosa<br />
nyawa ! nyawa ! nyawa !<br />
si buta ! si buta ! si buta !<br />
tujuh&#8230;sepuluh&#8230;tujuh puluh&#8230;berpuluh ribu&#8230;mesiu ada di hulu kepalamu !<br />
tujuh&#8230;sepuluh&#8230;tujuh puluh&#8230;berpuluh ribu&#8230;penipu<br />
menebar racun pada lautan padang pasirmu !<br />
Senapan ini masih kupegang, katamu<br />
batu ini masih kugenggam, katamu<br />
Nyawa adalah masih nyawaku yang akan mengharumkan hamparan pasir ini<br />
bersama kaki-kaki renta barisan ababil<br />
penghancur berhala berteriak syahadah menggema<br />
Allah ! Allah ! Allah !<br />
selaut pasir, selaut nyawa, seribu mesiu<br />
ada pada matamu nan tajam bak elang menerkam pada sejuk jiwa<br />
merdeka ! merdeka ! merdeka !<br />
selaut pasir, selaut nyawa, seribu mesiu<br />
ada pada syahadah kaki-kaki renta barisan ababil nan perkasa !<br />
perkasa ! perkasa ! perkasa !
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dyna.blogsome.com/2005/10/21/salute/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
