Alisa Delisa
Ya Allah…lihatlah ! Gadis kecil itu sungguh ingin sujud kepadaMu…sungguh hanya ingin sujud kepadaMu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Tetapi sekarang ia tak bisa melakukannya !
Ya Allah, bukankah banyak sekali orang-orang jahat, orang-orang munafik, orang-orang fasik yang bisa semaunya melakukan hal-hal buruk di dunia ini ? Engkau sungguh tak menghalanginya ! Tetapi Delisa ! Ya Allah, Delisa justru hendak sujud kepadaMu…hendak sujud ! Kenapa Kau membuatnya pingsan sebelum ia sempat melakukannya ? Kenapa ? Ya Allah, kenapa ? Aku bertanya…aku butuh penjelasan…
Seribu malaikat bertasbih. Seribu malaikat mengungkung langit. Turun menatap semua itu. Dan mereka tidak melakukan apa-apa !
Tubuh Delisa mulai tenggelam. Tubuh Delisa mulai menjemput kematiannya. Tubuh Delisa – Ya Allah, lihatlah ! Aku mohon…itu permohonanku yang pertama.
Ya Allah, padahal banyak sekali manusia yang katanya makhluk terbaik ciptaanMu, bahkan memiliki berjuta bilah papan yang bahkan cukup untuknya hidup sejuta tahun. Bilah papan yang tak pernah berbagi. Bilah papan yang dimakan sebdiri…demi nafsu dunia dan cinta materi. Tetapi lihatlah, mereka hanya punya sebilah papan. Hanya punya sebilah nyawa yang akan diselematkan.
Seribu malaikat mengungkung langit memuji namaMu ya Allah. Seribu malaikat mengungkung langit langit menyebut asmaMu ya Allah. Tak pernah seperti itu semenjak Ibrahim al Pasai memilih turun dari tahtanya. Meninggalkan seluruh kenikmatan dunia demi berbagi di kerajaan Samudera Pasai. Seribu malaikat mengucap salam.
Ya Allah, aku pernah sekali melihatnya ! Jadikan ia sebagai kerudung yang akan dipakai “perhiasan terbaikku”. Pinjamkan ia di atas kepala kekasih dunia akhiratku !
YaAllah, bahkan mereka sekecil itu tahu apa yang harus mereka lakukan ! Bahkan mereka sekecil itu tahu arti ikut merasakan…ikut berbagi. Ya Allah, sungguh ada banyak sekali orang-orang yang bahkan tidak tahu buat apa mereka hidup di dunia ini. Tidak tahu Kau akan bertanya banyak kelak di penghujung pengadilan. Tidak tahu kau akan meminta seluruh pengtanggungjawaban kelak. Tidak tahu semuanya pasti mendapatkan balas walau setitik djarah.
Y Allah, lihatlah ! Delisa baru enam tahun ! Delisa bahkan belum mengerti makna mati dan kematian, YA Allah, lihatlah ! Delisa baru enam tahun ! Delisa bahkan belum tahu makna derita dan penderitaan…
Banyak sekali ciptaanMu di dunia yang sungguh berewah-mewah dengan hidup. Lupa dengan makna mati dan kematian, padahal mereka mengerti. Menciptakan berjuta derita dan penderitaan bagi orang lain, padahal mereka tahu memahami. Tetapi mengapa Delisa yang harus menyaksikan semua itu ? Mengapa harus melalui mata hijaunya yang bening kami harus mengerti ayat-ayatMu ? Mengapa ya Allah ? Aku sungguh tak mengerti…
Lihatlah ya Allah ! Gadis kecil itu sungguh sendirian. Bukankan kuasaMu menjejak walau sekedar basah atau keringnya setangkai jerami. Bukankah kuasaMu menggapai walau jatuh tidaknya setetes air di tengah hutan belantara luas. Aku mohon – bantulah dengan tak terkira kasihMu…bantulah dengan tak terhitung sayangMu.
Ya Allah, sungguh mulia Engkau. Kau-lah yang menanamkan semua kesadaran itu. Kami lahir tak bisa melihat, Kau buat melihat. Kami lahir tuli, Kau buat mendengar. Kami lahir tak bergerak, Kau buat melangkah. Kami lahir tak mengerti, Kau tanamkan pengertian.
Ya Allah, bahkan banyak sekali orang-orang yang lalai, orang-orang yang fasik, orang-orang munafik, orang-orang jahat yang tak pernah lupa atas rencana-rencana jahat mereka…tidak pernah terlupakan. Bagaimana Delisa yang hendak shalat padaMu ? Delisa yang dalam keadaan sungguh mengenaskan, ingin shalat padaMu dengan sempurna, dan Kau buat ia lupa ? Bagaimana kalau esok lusa ia tidak sempat lagi menyetor bacaan itu ?
Ketika Delisa kelu menyadari fakta itu, ketika Delisa terjebak oleh semua kebingungan, seribu malaikat sedang menyiapkan istana indah untuknya di surga. Terukir namanya dengan huruf-huruf besar di pigura depan : ALISA DELISA.
Ya Allah, bahkan perbuatan terbaikku tak pernah membuat seujung kuku wajahku bercahaya…tak pernah. Tak pernah sedikit pun ! Apakah hati ini begitu kotornya ? Apakah tak ada sisa kebaikan yang ada di hati ini agar bisa menyinari jalan kebaikan bagi orang lain ? Apakah semuanya tinggal sebongkah daging yang hitam kelam ? Tanpa perasaan lagi ?
Ya Allah, bahkan wajahku tak pernah sedikit pun menginspirasikan orang lain untuk berbuat baik. Tak pernah sedikit pun mengilhami orang lain untuk berubah. Lihatlah ! Sungguh aku cemburu…bagaimana aku harus menjelaskan semua kecemburuan ini ?
Istana itu semakin indah buat Delisa…ada sejuta burung bul-bul di halamannya sekarang.
Dan memang begitulah, semua manusia yang masih memiliki hati di dunia ini akan selalu merasa dekat dengan siapa saja yang kebetulan sedang tertimpa musibah.
Semua kesedihan ini bahkan cukup untuk membuat panglima perang paling perkasa sekali pun tertunduk menangis. Semua kesedihan ini. Semua perasaan ini.
Sayangnya ketahuilah wahai penduduk bumi, kesedihan tidak mengenal derajat kehidupan yang diciptakan manusia. Kesedihan hanya mengenal derajat kehidupan yang Engkau tentukan. Kesedihan tidak pernah berkorelasi dengan kehidupan manusia yang amat keterlaluan cinta dunianya. Kesedihan hanya mengenal ukuran yang Engkau sampaikan lewat ayat-ayatMu. Kesdihan seseorang sungguh seharusnya kegembiraan baginya. Kegembiraan seseorang boleh jadi hakikatnya kesedihan terbesar baginya. Hanya untuk orang-orang yang berpikir.
Ya Allah, Delisa harus terus hidup. Ia belum pernah sujud yang sempurna. Aku mohon demi hidup dan kehidupan ini !
Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Besar Engkau ya Allah, yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak punya dan mempunyai selain Engkau.
Tetapi mengapa Engkau harus menciptakan perasaan ? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan ‘perasaan’ itu pada makhluk ciptaanMu ? Perasaan kehilangan…perasaan memiliki…perasaan mencintai…
Kami tak melihat, Kau berikan mata. Kami tak mendengar, Kau berikan telinga. Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna ! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu ? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami ? Mengapa ?
Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu.
Katakanlah wahai semua pecinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kerinduan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang menciptakan dunia dengan kasih sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatnya.
Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia lyu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yangbtidak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku.
Malam itu, penduduk langit sama sekali tidak tertidur.
Tetapi ya Allah, Delisa baru enam tahun ! Kanak-kanak yang kesehariannya seharusnya lebih banyak diisi dengan bermain. Bukan masa-masa untuk bertanya. Pertanyaan yang entah kapan ia mampu menjawabnya. Jika pun ada jawaban, entah kapan ia akan mampu memahaminya. Jika pun ia bisa menerimanya, entah kapan ia bisa menerimanya.
Engkau langsung menghukumnya. Delisa langsung ‘direndam’ dalam panasnya bara pengampunan. Entahlah ! Baik atau tidak bagi Delisa.
Sedangkan banyak sekali orang-orang jahat yang Kau tunda penghukumannya. Orang-orang jahat yang Kau biarkan tertawa-tawa. Bahkan Kau ‘berikan’ mereka jalan untuk dengan mudah melanjutkan bejat perangai mereka. Tengik perilaku mereka. Kau berikan jalan agar apa yang mereka lakukan malah terlihat baik di mata dunia.
Ukuran kehidupan yang kami ciptakan memang keterlaluan sekali, ya Allah. Kami malu jika berjalan ke tempat-tempat umum tanpa alas kaki. Padahal apa salahnya ? Kami justru tidak malu jika berdusta, kami tidak malu setelah melakukan maksiat.
Ukuran pemahaman yang kami buat memang keterlaluan sekali, ya Allah. Kami takut tidak memiliki harta, kami cemas bila esok tak ada harapan menambah pundi-pundi, sementara teman-teman kami sudah sedemikian menterengnya. Padahal apa salahnya ? Kami justru tidak malu membenarkan hal-hal keliru. Berkata ‘Ah ! Bukankah sudah demikian peraturannya ?’. Lump-sum. Setiap perjalanan diberikan ongkos sekian. Habis tidak habis ya segitu ! Kami lupa, kalau ‘peraturan manusia’ bilang demikian, apa lantas peraturanMu bilang sama ? Kami lupa, ukuran yang menelikungMu. Bukan permufakatan yang kami lakukan untuk membuat peraturan-peraturan tersebut.
Bagaimanalah jadinya kalau Delisa tidak terselamatkan ? Ya Allah, apakah hukuman untuk pembangkangannya seberat itu ? Bukankah banyak makhluk ciptaanMu yang sepanjang hidupnya tak pernah menurut ayat-ayatMu ? Tidak pernah melakukan kebaikan-kebaikan, tetapi Kau biarkan mereka hidup dalam semua kenikmatan ?
Bukankah banyak sekali hambaMu yang culas, durhakan, dan zalim ? Sepanjang hidupnya begitu. Tak pernah Kau hukum. Dan ketika di penghujung hidupnya mereka sedetik saja insyaf dan bertaubat, seketika Kau maafkan dosa-dosa mereka.
Ya Allah, bukankan Delisa sebaliknya ? Di penghujung semua kebaikannya, ia membangkang kepadaMu. Hanya sekali ini saja. Dan Kau langsung menghukumnya. Bagaimanalah kalau ia tidak terselamatkan lagi ? Bagaimana mungkin berguguran semua kebaikan itu ? Bukankah pembangkangan ini bisa diterima ?
Ya Allah, kami bodoh ! Kami sering tidak mengerti apa maksud takdirMu. Lantas apakah itu sebuah pembangkangan jika kami berkata TIDAK ? Apakah salah jika Delisa juga berkata TIDAK ? Kau-lah yang menciptakan bongkah perasaan itu. Dan kami lemah untuk memahami berbagai perasaan tersebut. Teramat lemah. Bantulah kami !
Malaikat Atid – sang pencatat keburukan – membuka buku raksasanya. Mengeluarkan penghapus raksasanya. Butuh dua belas hari untuk menghapus dosa itu. Dua belas hari langit, setara dengan dua belas ribu tahun bumi.
Maka berpikirlah, wahai para pembuat maksiat ! Berpikirlah, wahai para pembuat zalim yang ringan tangan mengambil hak-hak orang lain !
Yang dengan riang berkata : ‘Ah, sepanjang kami berbuat baik, bekerja baik, sungguh-sungguh, maka uang sogok masuk kerja ini akan terampuni !’. Atau dengan senang berkata : ‘Ah, sepanjang kami kembali ke istri masing-masing, berbuat baik, sungguh-sungguh, maka semua zina tangan, mata, dan hati ini akan terampuni.’ Yang mudah sekali ‘mencuri’ waktu kerja. ‘Mencuri’ hak orang lain. Atau dan atau lainnya.
Bagaimanalah kalian akan berharap ampunan, sedangkan dosa sebatang coklat Delisa membutuhkan dua belas ribu tahun untuk menghapusnya. Sungguh semua urusan ini seharusnya membuat kita malu. Malu dan berpikir ! Malu ! Berpikir !
Ah, bahkan nabi-nabi dan orang-orang terbaik pilihanMu pun sering bertanya. Menuntut penjelasan. Meminta pemahaman. Masalahnya mereka orang-orang yang istiqamah. Orang-orang yang mampu membersihkan hati dari bercak-bercak kemunafikan.
Sedangkan hamba ya Allah ? Hamba jauh dari memadai untuk berhak bertanya padaMu. Tetapi terimalah berbagai pertanyaan, pengaduan, dan keluh-kesah ini. Ampunkan jika terlalu dan tak pantas. Dan semoga dengan itu hamba bisa berkesempatan mendapatkan remah-remah penjelasan. Dan semoga dengan itu hamba bisa ikut merasakan sisa-sisa pemahaman.
Sungguh hamba rindu dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sungguh hama rindu dengan maqam yang lebih tinggi. Meski hati hamba masih mendua, masih takut dengan ‘harga’ dunia yang harus dibayar atas tingkatan tersebut.
Ya Allah, apakah semua hambaMu pernah mendapatkan kesempatan seperti itu ? Apakah semua hambaMu berhak atas sebuah penjelasan ? Penjelasan yang Kau kirimkan langsung dari arasyMu. Bukan penjelasan lewat buku-buku. Bukan penjelasan lewat orang-orang lainnya. Tetapi penjelasan yang tiba di hati secara langsung. Tercerna begitu saja, kemudian mengalir bersama merahnya darah kami.
Penjelasan tentang semua hidup dan kehidupan ini…
Penjelasan atas semua pertanyaan-pertanyaan kami…
Gadis kecil itu baru enam tahun. Tak mengerti hidup dan kehidupan. Tak paham mati dan kematian. Umurku saat ini 23 tahun. Bergelimang bangga dengan ilmu yang kudapatkan dari bangku universitas negeri ternama. Bergelimang bangga dengan berbagai tulisan yang mungkin dibaca jutaan orang. Bergelimang bangga atas semua pemahaman dangkal. Bergelimang bangga atas semua itu.
Tetapi setelah sekian lama, tak pernah kudapatkan hakikat penjelasan itu ya Allah. Tak pernah kudapatkan hakikat jawaban itu. Sementara Delisa, gadis kecil enam tahun itu Kau berikan kesempatan yang luar biasa ! Apakah hati ini terlalu kotor ya Allah ? Apakah hati ini amat munafik ? Apakah hati ini terlalu dangkal untuk menangkap penjelasanMu ? Semua penjelasanMu yang tergurat di bumi. Terlukis di langit. Apakah hati ini terlalu lemah untuk mengerti ? Untuk memahami…Bahkan setelah sekian lama, hati ini masih kuyu bertanya : apa arti hidup dan kehidupan ? Apa makna mati dan kematian ?
