Rumah Tumbuh
Aku rindu pagi yang kosong, saat segala di sekelilingku tak bernama dan bermakna. Lalu, nama dan makna itu bermunculan seperti matahari yang mulai menggeliat di balik mega putih. Seperti kelopak mawar yang mengenal rekah oleh hangat yang membelainya.
Saat seperti itu biasanya adalah saat aku kembali memaksa benakku menunjukkan kemampuan jelajahnya ke mana-mana. Kadang-kadang melintas gambar, aroma, dan rasa jagung bakar pedas manis yang sudah lama tidak kunikmati, atau pikiran tentang bagaimana cara menghitung volume satu tetes hujan yang ribut beradu di genteng pada malam yang lewat.
Rumah tumbuhku adalah cinta yang terus memagut senyum-senyum yang menyapa di tengah lantunan ayat-ayat suci di pagi buta, hingga riuh pecahan ombak yang tak berkesudahan.
