welcome to my life

April 13, 2006

Menjadi Siapa ?

Filed under: D y n a

Menjadi karang-lah, meski tidak mudah.
Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang.
Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah.
Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan.
Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya.
Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.
Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah.
Sebab ia akan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya.
Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar.
Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir.
Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang.
Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan.
Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan.
Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya.
Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah.
Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera.
Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu.
Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.

Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah.
Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit.
Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya.
Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru.
Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh.
Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya.
Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram angsa.
Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna.
Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan.
Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat.
Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya.
Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah.
Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar.
Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi.
Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun.
Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni.
Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah.
Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam.
Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia.
Sebab ia begitu berharga.
Sebab ia begitu indah dipandang mata.
Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula.
Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini.
Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan.
Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.

Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu.
Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu.
Sebab kau yakini kekuatanmu.
Sebab kau sadari kelemahanmu.

April 6, 2006

Rumah Rindu

Filed under: D y n a

Ruang-ruang kian redup dengan perlahan
Gelap merayap dan serangga-serangga berpesta

Aku berlari mencari terang
Namun kutukan ini menghempaskanku dalam lorong sunyi
Masihkah rinduku bersarang pada rumah putih itu

Ini adalah mimpi
Untuk yang beranjak lapuk dimakan waktu

Rumah Tumbuh

Filed under: D y n a

Aku rindu pagi yang kosong, saat segala di sekelilingku tak bernama dan bermakna. Lalu, nama dan makna itu bermunculan seperti matahari yang mulai menggeliat di balik mega putih. Seperti kelopak mawar yang mengenal rekah oleh hangat yang membelainya.
Saat seperti itu biasanya adalah saat aku kembali memaksa benakku menunjukkan kemampuan jelajahnya ke mana-mana. Kadang-kadang melintas gambar, aroma, dan rasa jagung bakar pedas manis yang sudah lama tidak kunikmati, atau pikiran tentang bagaimana cara menghitung volume satu tetes hujan yang ribut beradu di genteng pada malam yang lewat.
Rumah tumbuhku adalah cinta yang terus memagut senyum-senyum yang menyapa di tengah lantunan ayat-ayat suci di pagi buta, hingga riuh pecahan ombak yang tak berkesudahan.

Bulan Dan Bintang

Filed under: D y n a

Kami selallu bertegur sapa dalam kesenyapan malam. Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraan kami dengan hembusannya. Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.
Aku tahu, diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan siinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.
Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilagkan kedirianku, mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam.
Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang. Hanya kembali pada bumi.
Jika terjebak pada kelam awan dan dingin hujan, ingatlah masih ada harapan kan indah pelangi dan hangat mentari.
Malam semakin lelah dan suntuk. Ia menelanku perlahan-lahan bersama diriku yang tenggelam dalam pendar senyumnya yang menatah cela pada pekat malam dengan tarian cahaya. Apakah aku sampai pada saat harus mengakhiri kegamangan ini ?
Sennja melepuh dalam hening, seperti juga aku yang membisu dalam percikan bara dirinya yang menghujaniku. Ada kedalaman bola matanya, yang terus menyeretku masuk. Dan selalu setiap ia ada, arus itu akan menari-nari menggodaku untuk bermain-main dan tiba-tiba aku sudah tenggelam dalam pusaran yang diciptakannya.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M