Menatap Mawar Pada Laut (engkaukah itu ?)
…sebuah kontemplasi ramadhan diri…
Pagi dingin ini mawar terdiam hilang suara
Mengapa pucat merah mawar ?
sebaris semut, kumbang dan kupu mengepak sayap tak percaya
mawar rekah senyum pada nelangsa
aku mencari lukisan dalam gairah air dari syurga
tapi mengapa kau kenakan pakaian hitam-hitam itu
sedangkan matahari telah menggantikan bulan?
aku mencari air, mawar tatap ke depan bentangkan jiwa
Maha suci pemberi air itu
Maha besar penciptanya pada setiap kehausanku
Pagi dingin ini mawar menitikkan getihnya dalam nestapa
gugur daunnya helai demi helai bersama istighfar
akan luka-luka ketika selaksa jarum menyobek kelopak merah darah
layu batang mawar pada lelahnya duri yang menancap setajam kaca
Basah zikirnya untuk terus menatap kemana pinta jiwa
Maha kasih Dia yang tahu aku di mana
Maha cinta Dia yang menatapku di kejauhan di mana
Dalam diamnya mawar mengumpulkan seluruh kelopak yang berceceran di tanah
Angin, tolong terbangkan aku sehingga dapat berenang
mengapung dan bercengkarama dengan ikan-ikan yang bebas di mana-mana
di sebuah taman pinta para nelayan
Hujan basahi aku sehingga alirmu bisa membawaku
bermuara di sebuah taman surga para ikan-ikan
Matahari bakar aku agar uapku jatuh kembali ke taman
menyiarkan wewangian pada karang bertebaran
Oh, ombak ayun aku aku dapat bersandar pada perahu
yang ditambatkan di melautnya sejuta keinginan
Dalam merahnya air mata di pagi dingin Ramadhan
mawar diam memohon pada tuhan akan lautan
mawar diam basahkan dirinya selalu tak lelah pada Engkau
Ombak lautan tersenyumlah pada mawar angin lautan
sehingga mawar terbawa dalam buaian
